Senin, 21 Agustus 2017

MENUMBUHKAN SEMANGAT BELAJAR ANAK


Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya mencapai prestasi belajar yang baik. Prestasi itu tentu dapat diraih bila si anak memiliki kemauan dan semangat untuk belajar. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk meningkatkan semangat belajar pada anak:

1.        Memberikan motivasi

Semakin kuat motivasinya semakin bersemangat pula ia belajar. Karena itu, orang tua hendaknya memberi motivasi agar dorongan untuk belajar tumbuh dari diri anak sendiri.

2.        Menjelaskan tujuan belajar

Tujuan dapat memberi arah yang jelas bagi anak dalam belajar. Dengan tujuan belajar yang dipahaminya, anak akan lebih tekun dalam belajar.

3.        Menjelaskan manfaat belajar

Menjelaskan manfaat belajar dapat dilakukan dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari disekitar anak. Misalnya, si Anu yang tadinya pernah tidak naik kelas, akhirnya bisa lulus dan diterima di sekolah terbaik.

4.        Memberi kesempatan belajar

Memberi kesempatan berarti juga tidak mengganggu anak pada saat sedang tekun belajar. Orang tua bisa pula mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat yang memberi suasana belajar, misalnya perpustakaan.

5.        Menciptakan suasana bersaing

Persaingan bisa dilakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Contohnya, orang tua mendorong anak berlomba mengejar prestasi terbaik diantara teman-temannya. Prestasi disini tidak melulu berupa angka yang baik, tetapi juga peningkatan-peningklatan yang dicapai.

6.        Mencukupi sarana belajar

Dalam memenuhi sarana belajar hendaknya sesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak, karena kebutuhan mereka berbeda-beda.

7.        Memberikan contoh

Anak akan lebih bergairah dalam belajar bila melihat orang tuanya juga selalu belajar.

8.        Memberi hadiah

Anak yang menunjukkan prestasi baik dari hasil belajarnya layak mendapat hadiah. Bentuknya bisa materi, kasih sayang, perhatian, pujian, dll.







Mari Membangun Musholla Ponpes Tahfizhul Qur'an Al-Furqon dan Sarananya!!!

Menuntut ilmu syar'i memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar. Dan keutamaan tersebut juga akan didapatkan oleh orang-orang yang turut memfasilitasi sarana menuntut ilmu. Dan hal tersebut akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir baginya.

Seiring dengan dibutuhkannya Musholla pesantren sebagai sarana ibadah dan tempat Menghafal Al-Quran dan semakin bertambahnya jumlah santri, maka kepadatan asrama tidak bisa kami hindari.

Maka saat ini Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an AlFurqon, Cileungsi Bogor yang merupakan pesantren hafalan Al Quran dan bahasa Arab merencanakan _*Pembangunan Musholla, Ruang Kelas, Kantor, Perpustakaan, rumah ustadz dan Asrama Santri.*_

*_Anda bisa menyumbang bahan bangunan dan kami siap membangunnya..._*

Anda Bisa menginfakkan semen, pasir, kerikil, batu gunung, batu bata, besi, atap, plafon, upah tukang atau apa saja yang dibutuhkan untuk sebuah bangunan...

Untuk Tahap I kami membutuhkan bahan bangunan sebagai berikut:

*- Batu gunung 5 truk, harga 450.000/truk*
*- Pasir 15 truk, harga 400.000/truk*
*- Batu bata 50.000 biji, harga 500/biji*
*- Semen 200 zak, harga 55.000/zak*
*- Besi 10ks 200 batang, 50.000/batang*
*- Besi 6ks = 100 batang, 20.000/batang*
*- Kerikil 3 truk, harga 650.000/truk*
*- Plamur 30 zak, harga 60.000/zak*

Donasi untuk Atap dan Plafon insya Allah akan dilanjutkan pada Tahap II, setelah donasi tahap I terpenuhi.

Kami rasa sangat perlu melibatkan Bapak/Ibu/Saudara-saudari dalam proses pembangunan ini, yang insya Allah akan menjadi amal jariyah bagi kita walaupun kita sudah meninggal. Berapapun donasi yang kita berikan *[meski hanya satu batu bata]*  📡*insya Allah akan menjadi amal Sholeh yang berlipat ganda di akhirat.*🕌

Bagi Bapak/Ibu/Saudara-Saudari yang ingin mengantarkan bahan bangunan secara langsung ke lokasi *Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an AlFurqon, Cileungsi Bogor*
. Alamat: Kampung pendeuy RT. 18/09 Desa Mampir kec. Cileungsi. Kabupaten Bogor

Atas segala perhatian dan bantuannya kami ucapkan terima kasih teriring doa  جزا كم الله خيرا (Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda di sisi-Nya).

💝 *Pengurus Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an AlFurqon, Cileungsi Bogor.*

_*Baarakallaahu fiikum wa maalikum*_

📡 *Mohon bantuan ikhwah dan akhawat sekalian untuk menyebarkannya. Barangsiapa yang menunjukkan seseorang kepada kebaikan maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan tersebut*

*_Jazaakumullaahu khoiran..._*

Ttd.
Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur'an AlFurqon


Ust. Abu Al Iz, Lc, MH


Berikut kondisi terkini pembangunan musholla Al Furqon




Raih amal Sholeh sebarkan informasi ini

Kamis, 27 Juli 2017






Alhamdulillah, mohon do'a restu dan dukungannya untuk pembangunan Musholla Ponpes Tahfizhul Quran Al-Furqon

Selasa, 18 April 2017

3 Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak Sesuai Ajaran Islam


Parenting Islami, Salah Satu Konsep Mendidik Anak
Saat menikah dan kemudian berharap memiliki seorang anak; seharusnyalah kita juga telah mempersiapkan konsep seperti apa yang hendak kita terapkan dalam mendidik anak kita kelak, karena mendidik anak dalam Islam memiliki tata cara dan aturan tersendiri.
Di dalam Islam, anak memiliki kedudukan tersendiri yang harus kita jadikan pegangan dalam memilih model/cara mendidik anak yang akan kita lakukan.

Kedudukan Anak dalam Pandangan Islam
Mendidik anak dalam Islam harus didasarkan pada petunjuk dari Allah, yaitu Al-Quran, karena Al-Qur'an tidak hanya membahas tentang kewajiban anak kepada orang tua, namun juga kewajiban orang tua kepada anaknya.
Dan berikut ini adalah pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :
1. Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya
Selayaknya para bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.
2. Anak sebagai Generasi Penerus
Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mreeka dari api neraka kelak.
3. Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat
Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak. Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya.
4. Anak adalah Penghiburan dan Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya
Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah.
Berdasar pemahaman akan kedudukan anak dalam al-Qur'an diatas, maka ada 3 kewajiban orang tua dalam mendidik anak, yaitu:

1. Memberikan Dasar Hubungan Harmonis dengan Allah SWT (Habbuminnallah)
Sebagai orang tua kita harus dapat mengenalkan kepada anak-anak kita siapa Allah dan mengapa kita wajib taat padaNya. Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta, dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadaNya, hidup kita akan menjadi lebih baik dan bahagia.
Dengan memberikan dasar sedemikian, maka anak tidak akan menganggap Allah sebagai sebagai "hakim" atau "pengawas"; namun sebagai zat yang memang kita butuhkan keberadaanNya. Hal inilah yang harus kita jadikan landasan utama dalam mendidik anak sekaligus merancang pola asuh yang tepat baginya.
Salah satu cara untuk memberikan dasar habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat dan seterusnya.

2. Memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya
Dalam Islam, hubungan antar manusia (hablumminanas), sama pentingnya dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminnallah). Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: "... agar mereka dicintai orang-orang..." Jadi, wajib bagi kita mengajarkan tata cara pergaulan yang baik dengan sesama dan dilandasi rasa saling hormat-menghormati; serta mampu bersikap asertif.

3. Memberikan dasar yang kuat guna menghadapi tantangan jaman
Nabi pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita.
Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.
Nah, mari Parents, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi.
Jika telah benar dan sesuai perintah Allah, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga keistiqomahan, lisan dan hati kita dari hal-hal yang tidak Allah kehendaki.


Kamis, 10 September 2015

Khawatir Kebaikan Segera Dibalas Di Dunia

Oleh: Abu Hamzah

Saudaraku, dunia adalah tempat untuk mengumpulkan bekal menghadapi perjalanan panjang di akhirat. Dunia bukan tempat tinggal abadi yang di sini kita akan mendapatkan balasan akan perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan.

Pada suatu hari dibawakan makanan untuk Abdurrahman bin 'Auf radhiallahu 'anhu. Beliau berkata, “Telah terbunuh Mush'ab bin 'Umair radhiallahu 'anhu, orang yang lebih baik dariku, dan tidak didapati kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Hamzah ~atau yang lain~ radhiallahu 'anhu yang lebih baik dariku terbunuh dan tidak didapati kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Sungguh aku takut disegerakan balasan atas perbuatan-perbuatan baik kita di kehidupan dunia ini.”

Kemudian beliau menangis.

(Muqtathafat Min Mawa'izhish Shahabah)

"Maka nikmat Rabb kalian berdua yang manakah yang kalian dustakan?"

Demikianlah kegelisahan dan ketakutan seorang sahabat mulia yang dikejar-kejar oleh dunia. Seorang sahabat yang diluaskan rezekinya oleh Allah subhanahu wata'ala. Kekayaan yang melimpah bukannya menjadikan beliau senang dan terlena dengan kenikmatan hidup dunia. Akan tetapi semua itu menjadikan beliau semakin takut jika ternyata kenikmatan dunia tersebut menjadi balasan yang disegerakan di dunia sehingga di akhirat beliau tidak mendapatkan apa-apa lagi.

Saudaraku, demikianlah akhlak sahabat mulia, Abdurrahman bin 'Auf radhiallahu 'anhu dalam menyikapi nikmat dunia. Akhlak inilah yang menjadikan beliau sebagai seorang yang sangat dermawan dan ringan mengeluarkan hartanya untuk diinfakkan di jalan Allah subhanahu wata'ala. Mari kita evaluasi diri kita, dimanakah posisi kita dibandingkan dengan beliau dalam menyikapi nikmat dunia?

Semoga Allah merahmati dan meridhai Abdurrahman bin 'Auf radhiallahu 'anhu dan menjadikan kita juga memiliki rasa takut terhadap kenikmatan dunia sebagaimana beliau.

* Burdah: pakaian bergaris dengan bagian bawah terbuka.

بارك الله فيكم


Rabu, 09 September 2015

Bekal Untuk Perjalanan Jauh


Oleh: Abu Hamzah
 
Dari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, berkata: Abu Dzat Al-Ghifari radhiallahu 'anhu berdiri di sisi Ka'bah lalu berkata, “Wahai manusia, aku Jundub Al-Ghifari. Kemarilah kalian pada saudara yang menginginkan kebaikan dan menyayangi kalian.”

Maka manusia berkumpul di sekelilingnya.

Dia berkata, “Apa pendapat kalian jika seseorang hendak bepergian jauh, bukankah dia akan membawa bekal yang cukup dan bisa menyampaikan pada tujuan?”

“Benar,” jawab mereka.

Ilustrasi: Perjalanan Jauh

Dia berkata, “Sesungguhnya perjalanan di hari kiamat lebih jauh dari yang kalian tuju, karena itu ambillah bekal yang cukup untuk kalian!”

Mereka bertanya, “Apa bekal yang cukup bagi kami?”

Dia menjawab, “Laksanakanlah haji untuk menghadapi perkara-perkara yang besar! Berpuasalah pada hari yang sangat panas untuk menghadapi panjangnya waktu berkumpul di padang Mahsyar! Shalatlah dua rakaat di tengah gelapnya malam utk menghadapi kejamnya kubur! Ucapankanlah ucapan yang baik dan diamlah dari ucapan yang buruk untuk menghadapi situasi menakutkan ketika menghadap Allah pada hari kiamat! Bersedekahlah dengan hartamu agar kau selamat dari kesusahan pada hari kiamat! Jadikanlah dunia menjadi dua majelis: 1 majelis untuk mendapatkan akhirat dan 1 majelis untuk mendapatkan yang halal. Sedangkan yang ke-3 membahayakanmu dan tidak bermanfaat padamu lagi tidak kau inginkan. Jadikanlah hartamu 2 dirham: 1 dirham kau nafkahkan pada keluargamu dari yang halal dan 1 dirham kau persiapkan untuk akhiratmu. Sedangkan yang ke-3 membahayakanmu dan tidak bermanfaat padamu lagi tidak kau inginkan.”

Lalu dia memanggil dengan suara keras, “Wahai manusia, sungguh kalian telah dibunuh oleh keinginan yang berlebihan terhadap dunia yang tidak akan pernah kau dapatkan selamanya.”

(Al-Muqtathafat Min Mawa'izhish Shahabah)

بارك الله فيكم

(catatanabuhamzah.blogspot.com)

Hakikat Iman

Oleh: Abu Hamzah

Saudaraku, Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma menjelaskan tentang hakikat iman dari sisi praktik kehidupan sehari-hari:

وَهَلِ الإِيْمَانُ إِلاَّ الْحُبُّ فِي ﷲِ وَالْبُغْضُ فِي ﷲِ؟!

"Bukankah iman itu kecuali mencintai karena Allah dan membenci karena Allah?"

Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma berkata: “Demi Allah, jika aku puasa di siang hari tanpa membatalkannya, shalat malam tanpa tidur, menginfakkan hartaku di jalan Allah, dan aku mati ~pada hari aku mati~ sedangkan dalam hatiku tidak ada kecintaan pada orang-orang yang taat pada Allah dan kebencian pada orang-orang yang bermaksiat pada Allah maka semua itu tidak bermanfaat sama sekali untukku.” (Al-Muqtathafat Min Mawa'izhish Shahabah)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah 'azza wa jalla." (Shahih Al-Jami' no. 2539)

Demikianlah saudaraku, praktik iman yang dipahami oleh salafush sholih. Inilah yang setan tidak ridha ada pada diri kita sehingga dihembuskanlah dalam diri kita kebencian kepada sesama muslim hanya karena perbedaan paham dalam masalah khilafiyah, hanya karena berbeda jamaah, dan hanya karena berbeda pendapat dalam menentukan prioritas perjuangan yang harus dilakukan dalam memperjuangkan Islam yang seharusnya kita wajib bersikap toleran dan saling menghormati. Jika kita mau merenungi dalam-dalam sesungguhnya perbedaan dalam menentukan prioritas perjuangan jika disatukan akan menjadi barisan yang rapi dan kokoh, satu sama lain saling melengkapi kekurangan yang ada dan saling menguatkan.

Demikian juga setan tidak ridha, kecuali menyebar luaskan kecintaan pada para pelaku maksiat. Lihatlah bagaimana setan betul-betul telah mencetak kader-kader pelaku maksiat kemudian dicitrakan bahwa mereka adalah sosok-sosok panutan yang berkemajuan, modern, dan bergelimang harta. Sedangkan para pelaku ketaatan dicitrakan sebagai manusia bodoh, keras kepala, terbelakang, hidup penuh kekurangan, teroris, tidak menjunjung HAM, dll.

Inilah zaman yang kita dan anak-anak kita hadapi. Tentunya di zaman anak-anak kita kelak, ini akan menjadi lebih buruk lagi.

Ya Allah, tumbuh suburkanlah dalam hati kami kecintaan pada saudara-saudara kami sesama muslim & karuniakanlah sifat lemah lembut kepada kami dalam bergaul dengan mereka.

Catatan:
Membenci pelaku maksiat dari kalangan orang-orang mukmin sesuai dengan kadar maksiatnya. Kita mencintainya karena imannya dan kita membencinya karena maksiatnya. Kita tidak mencintainya secara total dan tidak pula membencinya secara total, sesuai dengan kadar iman dan kemaksiatannya.

بارك الله فيكم

Rabu, 26 Agustus 2015

Profil Beladiri di Ponpes Al-Furqon: Mengenal Perguruan Kungfu Islam THIFAN PO KHAN


MAJALAH SENI BELADIRI "JURUS" EDISI NO.11 - TAHUN I - 8 NOPEMBER 1999


Inilah  jenis beladiri yang lekat dengan dakwah Islam. Meskipun berasal dari negeri yang bukan merupakan pusat penyebaran Islam, namun dalam perkembangannya tatacara latihan dan pemilihan materi pelajarannya sangat dipengaruhi oleh aqidah Islam. Konon, pernah di suatu masa orang yang boleh mempelajari beladiri ini harus hafal Al-Qur’an dan minimal seribu hadits.

Ulasan sejarah perguruan ini tak lepas dari kitab-kitab yang menjadi pedoman intern keluarga besar Thifan Pokhan, yaitu Kitab Zhodam yang berisi riwayat Thifan Pokhan, serta Kitab Thifan Pokhan sendiri yang memuat teknik-teknik bela diri.  Keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1920 dari bahasa aslinya, Urwun.

Thifan adalah nama suatu daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah jajahan Cina yang kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang, yang artinya Negeri Baru. Namun kalau kita simak dalam atlas dunia, yang akan kita temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah Cina Utara.
Turkistan Barat dijajah oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang ke daerah ini, beberapa suku asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati telah memiliki sejenis ilmu bela diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang dinamakan “kagrul” yang dipadukan dengan pengaturan napas Kampa.

Dakwah Islam mulai disebarkan di Turkistan sekitar dua abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam: “Maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadan tanah Cina arah utara itu masuk Islam. Lalu ilmu pembelaaan diri masa mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam alam Islam, tetapi ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan kebudhaannya seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatup kedua belah tangan, lambang-lambang dan segala istilah.” (ZHODAM, Telif Syiharani, halaman 9).

Menurut M. Rafiq Khan dalam bukunya “Islam di Tiongkok”, orang muslim pertama yang datang ke Tiongkok terjadi pada jaman pemerintahan Tai Tsung (627-650 Masehi), seorang kaisar kedua dari Dinasti T’ang. Dituliskan pula bahwa selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2 dari Dinasti Tsung tahun 960-1270 Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra Khan beserta pasukannya, lalu menduduki Sin Kiang.

Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi antara dakwah Islam dengan tumbuhnya berbagai ma cam beladiri di kawasan Tiongkok sehingga terjadi pula Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa Urwun yang merupakan bahasa asalnya, Thifan Pokhan berarti “Kepalan Tangan Bangsawan Thifan”.  Beladiri ini mempunyai riwayat tersendiri yang khas sebagaimana diceritakan dalam Kitab yang bernama Zhodam.

BAGAN ASAL USUL THIFAN PO KHAN
Bagan Asal-usul Thifan
Bagan di atas dapat diuraikan lagi secara lebih rinci. Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang disebut Kagrul bercampur Kumfu Cina Purba.

Dulu, adalah seorang pendeta Budha bernama Ponitorm/Tamo Sozhui/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan.  Dia menyebarkan ajarannya.  Dalam pengembaraannya sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah oleh Raja Wu.

Karena terkena fitnah ia melarikan diri dan sampai di Bukit Kao.  Di sana ia merenung selama 9 tahun.  Menyadari murid-muridnya sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia atau penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama Budha, maka ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti tersebut di atas.  

Campuran Kumfu Cina Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang diatur dengan jalan pernapasan Yoga Dahtayana membentukk Shourim Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara.  Pengkajian beladiri ini disusun dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam Kitab Hzen Souzen. Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri lain seperti Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain yang masih satu sumber.

Aliran Shourim terus berkembang ke arah utara Cina dan memasuki daerah orang Lama (Tibet) & orang Wigu (Turki). Di sana aliran Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang.  Setiap cabang pun berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut.  Pecahnya aliran ini disebabkan Dinasti yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.
Tersebutlah seorang bangsawan bernama Jenan dari Suku Tayli yang pandai dalam ilmu syara dan terkenal sebagai ahund (ustad atau guru) muda.  Jenan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu dan ia pun berguru pada pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu.  Bersama para pendekar Muslim lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, Silat Kitan Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan. Dari Shurul Khan inilah terbentuk sembilan aliran seperti yang tersebut pada bagan.

Aliran-aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan lalu dipilah, diteliti dan dikaji dari segi kesehatan serta dibersihkan dari segala macam bentuk syirik dan khurafat.  Hasilnya menjadi cikal bakal munculnya Thifan.  Pada masa itu pengaruh Islam sudah masuk ke dalam beladiri ini.

JURUS DAN GERAKAN THIFAN POKHAN
  1. Jurus-jurus persiapan : sepak tinju suku Wigu
  2. Tingkat dasar : gerakan campuran pelbagai aliran-aliran gerakan binatang dari cerita Pendekar Namsuit.
  3. Jurus-jurus Turaiyt : Ilmu perkelahian pendekar Mogul, Nana Fan
  4. Jurus-jurus Bergulat : Gerakan orang Turki, Tatar, Monsyu, Saldsyuk dan Kay Suku Pantai
  5. Langkah (Tusyug) : Gerakan sebelas suku di daerah Thifan yaitu suku-suku Selatan di Cina
  6. Khimo : Siasat suku Kittan, Tayli, Shourim, dan Hayawan.
  7. Jurus-jurus Konlut : Gerakan unggas berkelahi, bertahan dan lain-lain
  8. Fuen Lion : pelbagai jenis binatang cengkrik, ular, kelelawar, dan lain-lain
  9. Tawgi Kotlu : gerakan binatang, pembelaan diri Tatar, Saldsyuk, Cina dan pelbagai jenis Kungfu Purba Tezi dan Szanding
  10. Badur : Diambil dari Aliran Tayakan, Suku Mutang, Binatang Laut, Bentuk Bunga, Lilin Selendang dari Tayli, Gerakan Suku Kitan, Mongol, Doghan dan Cina.
Seluruh gerakan itu diubah untuk melengkapi Shurul Khan. Selain ilmu tersebut di atas dalam materi pelajaran beladiri ini juga diajarkan ilmu Awasin Al Kay dari Arab, tusuk jarum dari Cina, tusuk saraf dari Persia, dan lain-lain. Juga permainan senjata dari Toya, Shourim, Kungfu Purba, permainan pedang Kurdi, permainan panah Mongol, permainan senjata Keway dari Anak Suku Wigu, serta ilmu Senzho yang merupakan gubahan berbagai suku. Karena itu Shurul Khan Thifan Pokhan termasuk aliran yang lengkap, karena segala aliran ada di dalamnya.

Inti materi latihan Thifan Pokhan dibagi menjadi enam bagian, yaitu :
1.    Sentai (senam)
Senam merupakan latihan dasar yang penting karena mendukung jurus-jurus lain yang diajarkan kemudian. Senam tersebut meliputi : senam kepala (leher), bahu, tangan, jari, perut, pinggang (perut), dan kaki. Ketujuh komponen tubuh inilah yang mendukung seseorang dalam melakukan gerakan serangan maupun belaan.


2.    Tawe (jurus), dibagi menjadi
a.    Teknik jurus : tangan kosong (teknik kepalan dan tangan terbuka yang terkumpul dalam 
       2028 jurus), serta permainan senjata (sekitar 20 jenis yang terkumpul dalam 5028 jurus)

b.    Teknik penggunaan jurus. Semua anggota badan bisa dijadikan senjata seperti kepala, 
       sikut, tangan, lutut, telapak kaki, dan sebagainya. Tangkisan bisa dilakukan dengan tangan 
       dan kaki, sedangkan teknik serangan dibagi menjadi 5 macam:
  1. menyerang dengan teknik merapat
  2. memanfaatkan tenaga lawan
  3. mengimbangi tenaga lawan
  4. menggunakan jarak/jangkauan
  5. menggunakan teknik bertubi - tubi

3.    Tusyug (langkah)
Ada kira-kira 164 cara melangkah yang dibagi menjadi 5 cara, yaitu :
  1. Geser
  2. patah
  3. lompat
  4. putar
  5. pilin
4.    Sikla (pasangan)

5.    Khimo (tipuan) dibagi menjadi 5 jenis
  1. Khimo langkah
  2. Sikla khimo
  3. Khimo yang berbentuk jurus
  4. Khimo tangkisan
  5. Khimo senjata
  6. Teknik pernapasan binatang buas

Ada 12 tingkat jenjang latihan yang berlaku di Thifan Pokhan setiap tingkat memakan waktu sekitar satu tahun.  Namun ada juga program khusus, tergantung pada kemajuan murid. Pada program ini waktu bisa lebih dipersingkat.

Salah satu ciri khas bela diri Thifan adalah teknik pembelaan diri yang selalu membiarkan lawan terlebih dahulu menyerang. Dengan demikian  gerakan lawan dapat diamati, apakah mematikan atau tidak. Kemudian teknik yang digunakan lawan tersebut digunakan untuk balik menyerangnya.

Untuk mencapai tahap kemampuan seperti tersebut ada dua hal pokok yang harus dimiliki, yaitu ketenangan dan kelincahan.  Ketenangan dapat dicapai jika dua unsur pokok dalam diri manusia dapat dipadukan dengan selaras, yaitu Unsur Jasadiah yang terlatih dengan baik dan Unsur Ruhiyah yang terbina dalam pemahaman aqidah yang benar (shohih). Kelincahan yang didapat dalam jurus-jurus Thifan secara tertib, disiplin dengan target sesuai dengan jenjang tingkatnya.

Kaedah-kaedah yang terdapat dalam Kitab Thifan Pokhan harus dilaksanakan sebagaimana adanya. Artinya, tidak boleh menambah-nambah tanpa ilmu yang jelas karena dalam beladiri ktia bergerak menggunakan sistem otot, saraf, dan lain-lain. Jadi apabila salah bergerak, bukannya sehat yang didapat tetapi sebaliknya akan mengakibatkan sakit. Sebagai contoh, penyakit hernia dapat diakibatkan oleh latihan pernapasan yang salah.

KURIKULUM TAMID PEMULA (ANGGOTA BARU)
Rincian kurikulum tamid bisa dilihat pada proposal latihan atau bisa ditanyakan kepada pelatih setempat !!


TRADISI LANAH SHURUL KHAN THIFAN POKHAN
Tradisi yang diajarkan di lanah-lanah atau lembaga-lembaga pesantren dengan doktrin Thifan, di antaranya adalah :
  1. Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada takhayul, khurafat dan tidak berbuat bid’ah dalam syara
  2. Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran)
  3. Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu
  4. Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok)
  5. Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara
Adanya doktrin ini disebabkan karena pada hampir semua bela diri terdapat paham agama/isme tertentu yang muncul dari adat/kepercayaan. Beladiri ini adalah beladiri khas muslim yang diwakafkan untuk umat Islam yang mengikuti Al-Quran dan Sunnah.

PERKEMBANGAN DI INDONESIA
Pada masa Sultan Malik Muzafar Syah dari Kerajaan Lamuri yang hidup sekitar abad ke-16 didatangkan pelatih-pelatih beladiri dari Turki Timur yang kemudian disebarkan ke kalangan para bangsawan di Sumatra (dapat dilihat dalam Kisah Raja-raja Lamuri/Raja Pasai).

Pada sekitar abad ke-18 Tuanku Rao dan kawan-kawan mengembangkan ilmu ini ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang hingga ke Sumatera bagian Timur dan Riau yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Kemudian, sekitar tahun 1900-an ilmu ini dibawa oleh Tuanku Haji (Hang) Uding yang menyebarkannya ke daerah Betawi dan sekitarnya. Beladiri khas ini pun disebarkan oleh orang-orang Tartar ke pulau Jawa sambil berdagang kain, sedangkan di luar pulau Jawa lainnya ilmu beladiri disebarkan oleh pendekar-pendekar lainnya sampai ke Malaysia dan Thailand (Patani).

Masuknya Thifan ke pulau Jawa ada yang langsung atau tidak langsung. Khususnya di Jawa Barat.
Thifan Po Khan yang untuk khusus untuk pria (Thifan Tsufuk) dan yang khusus untuk wanita (Thifan Puteri Gading) dikembangkan atas bimbingan Ustadz Ad Marzdedeq. Aliran ini muncul karena ketika Thifan masuk ke Indonesia sistem pengajarannya belum baku sebab penyebarannya masih terbatas. Nama "tsufuk diambil dari nama sejenis hewan yang sedang mengintai lawan. Jenis hewan yang mempunyai berat sekitar 9 kg ini hanya hidup di Siberia.
Tsufuk biasanya dipakai untuk bahan topi di daerah dingin

Di Indonesia beladiri ini tidak berafiliasi dengan beladiri lain yang terdaftar di KONI. Dalam tiga kali pertandingan ekshibisi intern, Thifan Po Khan menggunakan peraturan sendiri. Sebenarnya KONI telah menganjurkan agar Thifan berafiliasi dengan salah satu beladiri seperti wushu atau pencak silat.

Karena besarnya animo kaum muslimin untuk mempelajari beladiri Thifan Pokhan, maka aliran Tsufuk membuat sistem pengajaran yang baku, tanpa meninggalkan kaedah-kaedah Thifan Pokhan yang benar. Di Indonesia beladiri ini tidak berafiliasi dengan beladiri lain yang terdaftar di KONI. Dalam tiga kali pertandingan eksebisi intern, Thifan Pokhan menggunakan peraturan sendiri. Sebenarnya KONI telah menganjurkan agar Thifan berafiliasi dengan salah satu beladiri seperti wushu atau pencak silat. Namun karena alasan tekniknya berbeda dengan beladiri lain dan melihat sejarahnya yang cukup tua, maka hingga sekarang Thifan Pokhan masih berdiri sendiri. Untuk murid perempuan, berbeda dengan olahraga beladiri lainnya, dalam latihan kelompok perempuan senantiasa terpisah dengan kelompok laki-laki (waktu latihan berbeda), bahkan diusahakan pelatihnya pun dari yang sejenis. Gerakan-gerakan dan jurus-jurus antar dua kelompok ini juga berbeda, untuk kalangan perempuan lebih halus, disesuaikan dengan fitrah kewanitaannya.

Sumber: http://beladirithifan.blogspot.com/2010/11/mengenal-perguruan-thifan-po-khan.html

Selasa, 25 Agustus 2015

Ujian Santri: KANGEN


Ujian terberat ketika tinggal di Pondok Pesantren ternyata bukan makanan yang tidak selezat buatan Ummi di rumah. Juga bukan karena tempat tidurnya tidak senyaman kasur di kamar. Juga bukan karena aktivitas padat terpantau selama 24 jam. Bukan itu semua... Ternyata... ujian yang sangat berat itu adalah "kangen pada rumah". Dikala sendiri, tidak ada aktivitas, tiba-tiba kangen pada Abi dan Ummi di rumah. Bagaimana kabar mereka berdua sekarang? Siapa lagi yang membantu Ummi mengajak main adik karena adik kecilku selalu mengganggu Ummi yang sedang sibuk masak di dapur. Atau siapa lagi yang membantu Ummi bersih-bersih dan merapikan rumah di pagi hari? In syaa Allah Abi yang akan menggantikan semua tugas-tugasku membantu Ummi di pagi hari. Ah... kasihan Abi... beliau sudah sangat lelah mencari nafkah, pagi-pagi masih harus disibukkan dengan membantu Ummi mengurus adik, bersih-bersih rumah, dll.
Juga kangen pada adik dan kakakku, walaupun ketika kumpul di rumah tidak pernah absen bertengkar dan berebut sesuatu tiap hari. Sekarang mereka tidak ada di sini. Aku di sini sendiri. Tidak ada saudara.
Kakek dan nenekku, bagaimana kabar mereka berdua? Mereka sangat sayang kepadaku, bahkan cenderung sangat memanjakanku. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi, memberi petunjuk, dan memudahkan urusan mereka semua. Aamiin.
Saudara-saudaraku, kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah. Inilah sekelumit potongan perjalanan hidup anak-anak kita di Ponpes Al-Furqon dalam menuntut ilmu. Setelah sekitar 1 bulan anak-anak mukim di Ponpes, ujian KANGEN inilah yang sedang mereka hadapi sekarang. Sebagai manusia biasa, wajar jika mereka merasakan hal itu. Dan memang demikianlah seharusnya, karena ini pertama kali mereka tinggal jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan adik kakaknya.
Tentu para Asatidz telah berupaya dengan berbagai macam cara agar mereka betah tinggal di Ponpes Al-Furqon. Namun tentu, tidak cukup itu. Dukungan dari orang tua harus seiring dan sejalan dengan usaha yang telah dilakukan oleh para Asatidz. Intinya bagaimana caranya mereka betah dan bisa mengatasi rasa KANGENnya. Tentu, para orang tua punya harapan besar menitipkan anaknya untuk dibina di Ponpes Al-Furqon. Mudah-mudahan Allah semakin meneguhkan harapan itu sehingga orang tua pun bisa memberi motivasi kepada anak-anaknya masing-masing agar bersabar ketika menghadapi berbagai macam ujian menuntut ilmu. Semua harus dilandasi karena mengharapkan ridha Allah subhanahu wata'ala.
Marilah saudara-saudaraku, kita doakan dalam doa khusyu' kita kepada Allah, mudah-mudahan mereka, 7 orang santri tersebut diberi kemampuan oleh Allah untuk melewati masa-masa ini dengan baik. Mudah-mudahan mereka diberi keistiqomahan dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu sehingga kelak mereka menjadi seorang muslim yang BASHTHATAN FIL 'ILMI WAL JISMI (luas ilmunya dan kuat fisiknya).

آمين يا رب العالمين

بارك الله فيكم